Jakarta, Indonesia — Menjelang waktu berbuka puasa, pasar-pasar takjil di berbagai daerah selalu dipadati pembeli yang berburu aneka makanan dan minuman untuk berbuka. Lonjakan pengunjung yang terjadi sekitar 30-60 menit sebelum azan maghrib kerap membuat pedagang kewalahan melayani transaksi.
Fenomena tahunan ini mendorong berbagai pihak, termasuk penyedia layanan pembayaran digital, untuk mengimbau para pedagang pasar takjil agar segera mengaktifkan layanan InstaQRIS guna mengantisipasi kepadatan transaksi di jam-jam kritis menjelang berbuka.
“Setiap tahun kami melihat antrean panjang di pasar-pasar takjil menjelang maghrib. Ini masalah klasik yang sebenarnya bisa diatasi dengan teknologi pembayaran digital,” ujar Direktur InstaQRIS, dalam keterangan persnya, Senin (10/3).
Daftar Isi
Lonjakan Transaksi Menjelang Maghrib Jadi Tantangan Pedagang
Apa Itu InstaQRIS dan Bagaimana Cara Kerjanya?
Tren Pembayaran Digital Selama Ramadan
Prosedur Pendaftaran InstaQRIS untuk Pedagang
Keuntungan Penggunaan QRIS bagi Pedagang Pasar Takjil
Testimoni Pedagang yang Telah Mengadopsi Pembayaran Digital
Tanggapan Pengunjung Terkait Kemudahan Transaksi
FAQ Seputar InstaQRIS untuk Pedagang Musiman
Kesimpulan
Lonjakan Transaksi Menjelang Maghrib Jadi Tantangan Pedagang
Berdasarkan pantauan di sejumlah pasar takjil di Jakarta, Bandung, dan Surabaya, kepadatan pengunjung mulai terasa sejak pukul 16.30 WIB hingga menjelang azan maghrib. Pada rentang waktu tersebut, pedagang harus melayani puluhan hingga ratusan pembeli dalam waktu singkat.
“Kalau sudah menjelang maghrib, kadang sampai kewalahan. Apalagi kalau ada pembeli bayar pakai uang besar, kami harus siap-siap uang kembalian. Kadang kehabisan receh, kadang salah hitung karena buru-buru,” kata Siti (42), pedagang takjil di kawasan Pasar Minggu, Jakarta Selatan.
Kondisi serupa juga dialami pedagang di daerah lain. Di Pamekasan, Madura, pasar takjil dadakan yang muncul setiap Ramadan selalu dipadati pembeli pada jam-jam menjelang berbuka. Para pedagang pun harus bekerja ekstra cepat untuk melayani transaksi.
Menanggapi hal ini, sejumlah pihak mendorong digitalisasi transaksi di pasar-pasar tradisional, termasuk pasar takjil musiman. InstaQRIS, sebagai salah satu penyedia layanan QRIS, menawarkan solusi pembayaran non-tunai yang diklaim dapat mempercepat proses transaksi.
Apa Itu InstaQRIS dan Bagaimana Cara Kerjanya?
InstaQRIS adalah aplikasi penyedia QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard) yang memungkinkan pedagang menerima pembayaran digital dari berbagai dompet elektronik dan aplikasi mobile banking. Layanan ini telah berizin dan diawasi oleh Bank Indonesia serta Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI).
Secara teknis, cara kerja InstaQRIS cukup sederhana. Pedagang yang telah mendaftar akan mendapatkan kode QRIS unik yang dapat ditempel di lapak dagangan. Pembeli cukup memindai kode tersebut menggunakan aplikasi pembayaran pilihan mereka, memasukkan nominal sesuai harga belanjaan, dan dana akan langsung masuk ke rekening pedagang secara real-time.
“Kami menyediakan solusi bagi pedagang, terutama yang berjualan di pasar-pasar musiman seperti saat Ramadan, agar bisa melayani transaksi dengan lebih cepat. Satu kode QRIS bisa digunakan untuk semua aplikasi pembayaran, baik dompet digital seperti GoPay, OVO, DANA, ShopeePay, maupun mobile banking dari berbagai bank,” jelas Direktur InstaQRIS.
Sistem pembayaran ini, lanjutnya, dirancang untuk mengatasi kendala klasik seperti antrean panjang, kesulitan mencari uang kembalian, hingga risiko uang palsu yang kerap terjadi di musim ramai seperti Ramadan.
Tren Pembayaran Digital Selama Ramadan
Laporan dari Visa baru-baru ini memproyeksikan bahwa belanja digital akan mendominasi Ramadan 2025 di Indonesia. Total belanja pada periode tersebut diperkirakan melampaui pencapaian tahun sebelumnya, didorong oleh kuatnya konsumsi domestik serta penetrasi teknologi pembayaran nirsentuh (contactless).
Data menunjukkan sekitar 62 persen masyarakat Indonesia telah terbiasa berbelanja daring dua hingga tiga kali per bulan, dan puncak transaksi diperkirakan terjadi pada pekan ketiga Ramadan seiring meningkatnya pembelian kebutuhan berbuka dan persiapan hari raya.
Di tingkat lokal, adopsi QRIS di kalangan pedagang pasar takjil juga menunjukkan peningkatan. Bank Indonesia mencatat transaksi QRIS selama Ramadan tahun lalu tumbuh signifikan dibanding hari biasa, dengan pertumbuhan mencapai lebih dari 200 persen di beberapa daerah.
Di Mahakam Ulu, Kalimantan Timur, puluhan pedagang di Bazar Ramadhan telah mengadopsi QRIS dan melaporkan peningkatan omzet hingga dua kali lipat. Sementara di Ambon, Maluku, sebanyak 18 pedagang di depan Masjid Raya Al Fatah mulai menerima pembayaran digital pada Ramadan tahun ini.
Prosedur Pendaftaran InstaQRIS untuk Pedagang
Bagi pedagang pasar takjil yang tertarik menggunakan InstaQRIS, proses pendaftaran diklaim relatif mudah dan cepat. Berikut tahapan yang perlu dilakukan:
Pertama, pedagang dapat mengunduh aplikasi InstaQRIS melalui Google Play Store atau mengakses situs resmi di instaqris.id.
Kedua, mengisi formulir pendaftaran dengan melampirkan foto KTP, foto usaha, dan nomor rekening untuk pencairan dana.
Ketiga, memilih paket layanan yang tersedia. Untuk pedagang musiman seperti pasar takjil, tersedia Paket Instan dengan biaya aktivasi mulai Rp35.000 (promo). Tidak ada biaya bulanan atau biaya tersembunyi lainnya.
Keempat, melakukan pembayaran biaya aktivasi melalui transfer bank atau dompet digital.
Kelima, menunggu proses verifikasi dan aktivasi yang dijanjikan maksimal satu jam setelah data lengkap.
Setelah akun aktif, pedagang dapat mengunduh file QRIS untuk dicetak sendiri atau memesan stiker QRIS yang akan dikirimkan ke alamat mereka.
Untuk pendaftaran selama bulan Ramadan, InstaQRIS menawarkan kode promo QRISCEPAT yang memberikan potongan harga spesial bagi pedagang yang mendaftar.
Keuntungan Penggunaan QRIS bagi Pedagang Pasar Takjil
Berdasarkan pengalaman pedagang yang telah mengadopsi pembayaran digital, terdapat beberapa keuntungan yang diperoleh:
Pertama, efisiensi waktu transaksi. Dengan QRIS, proses pembayaran hanya membutuhkan waktu 3-5 detik, jauh lebih cepat dibanding transaksi tunai yang memerlukan waktu lebih lama untuk menghitung uang dan mengembalikan kembalian.
Kedua, mengurangi antrean. Kecepatan transaksi membantu mengurai antrean pembeli, terutama pada jam-jam sibuk menjelang maghrib.
Ketiga, keamanan dari uang palsu. Transaksi digital menghilangkan risiko menerima uang palsu yang kerap beredar di musim ramai.
Keempat, tidak perlu menyediakan uang kembalian. Pedagang tidak lagi khawatir kehabisan uang receh atau kewalahan mencari uang kecil untuk kembalian.
Kelima, kemudahan pencatatan keuangan. Semua transaksi tercatat otomatis di aplikasi, memudahkan pedagang merekap penjualan harian.
Keenam, menjangkau lebih banyak pembeli, terutama kalangan milenial dan Gen Z yang lebih nyaman menggunakan dompet digital.
Testimoni Pedagang yang Telah Mengadopsi Pembayaran Digital
Irwan, seorang pedagang di Bazar Ramadhan Mahakam Ulu, Kalimantan Timur, mengaku merasakan manfaat signifikan setelah menggunakan QRIS.
“Penjualan dengan QRIS sangat membantu. Customer bisa belanja walau nggak bawa uang tunai. Transaksinya juga cepat, nggak ribet, dan lebih simpel. Biasanya kalau jualan di rumah, omzet cuma sekitar Rp500 ribu sehari. Tapi kalau di Bazar Ramadhan bisa sampai Rp1 juta. Lumayan banget bedanya,” ungkapnya kepada media setempat.
Sementara itu, Eny Soo, pedagang takjil di Ambon, menceritakan pengalaman barunya menggunakan pembayaran digital.
“Sejak hari pertama Ramadhan, pedagang di depan masjid raya Al Fatah sudah bisa menerima pembayaran via QRIS. Di Ramadhan tahun ini kami baru menerapkan pembayaran digital, sebelumnya kami masih menerima pembayaran secara tunai,” katanya.
Ia menambahkan bahwa pembeli juga tampak antusias dengan adanya opsi pembayaran non-tunai.
Tanggapan Pengunjung Terkait Kemudahan Transaksi
Dari sisi pengunjung, kehadiran QRIS di pasar-pasar takjil juga mendapat sambutan positif. Yuliatin, pengunjung Pasar Takjil Pamekasan, mengaku terbantu dengan adanya pembayaran digital.
“Ada kemudahan tersendiri sebenarnya bertransaksi di QRIS. Tidak perlu repot menunggu kembalian,” ujarnya.
Senada dengan Yuliatin, Afifur Rahman, pengunjung lainnya, menilai pembayaran digital membantu kelancaran transaksi di saat-saat sibuk.
“Penjual hanya fokus mengemas barang yang laku. Setelah itu, pembayaran tanpa repot mencari kembalian, karena itu yang bikin lama. Transaksi QRIS juga mengurangi risiko pedagang dan pembeli rugi, salah satunya salah hitung kembalian uang,” jelasnya.
Beberapa pengunjung lain mengaku sengaja mencari lapak yang menerima QRIS karena tidak ingin repot membawa uang tunai dalam jumlah besar.
FAQ Seputar InstaQRIS untuk Pedagang Musiman
Apakah pedagang musiman (hanya saat Ramadan) boleh daftar InstaQRIS?
InstaQRIS terbuka untuk semua jenis usaha, termasuk pedagang musiman seperti pasar takjil Ramadan. Akun tetap aktif dan bisa digunakan kapan saja setelah Ramadan.
Berapa biaya pendaftaran InstaQRIS?
Biaya aktivasi Paket Instan mulai Rp35.000 (promo). Tidak ada biaya bulanan atau biaya tahunan. Kode promo QRISCEPAT tersedia untuk potongan harga selama Ramadan.
Apakah ada biaya per transaksi?
Ada biaya Merchant Discount Rate (MDR) sebesar 0,3% dari nilai transaksi, sesuai tarif standar nasional yang ditetapkan Bank Indonesia.
Berapa lama proses aktivasi?
Proses verifikasi dan aktivasi maksimal satu jam setelah data lengkap. Pendaftaran hanya butuh waktu kurang dari 3 menit.
Dompet digital apa saja yang bisa digunakan?
InstaQRIS mendukung GoPay, OVO, DANA, ShopeePay, LinkAja, serta mobile banking dari berbagai bank seperti BCA, Mandiri, BRI, BNI, dan lebih dari 40 metode pembayaran lainnya.
Apakah perlu punya smartphone canggih?
Aplikasi InstaQRIS ringan dan bisa dijalankan di smartphone Android biasa. Yang terpenting adalah koneksi internet stabil untuk menerima notifikasi transaksi.
Kesimpulan
Fenomena lonjakan pembeli di pasar takjil menjelang maghrib setiap Ramadan merupakan tantangan tersendiri bagi para pedagang. Keterbatasan waktu dan tingginya volume transaksi kerap menimbulkan antrean panjang serta potensi kesalahan hitung atau risiko keamanan.
Kehadiran layanan pembayaran digital seperti InstaQRIS menawarkan solusi untuk mengatasi kendala tersebut. Dengan proses transaksi yang lebih cepat dan praktis, pedagang diharapkan dapat melayani lebih banyak pembeli, terutama pada jam-jam kritis menjelang berbuka.
Meski demikian, keputusan untuk mengadopsi teknologi pembayaran digital tetap berada di tangan masing-masing pedagang, dengan mempertimbangkan kesiapan dan kebutuhan usaha mereka. Yang jelas, tren pembayaran non-tunai terus meningkat di masyarakat, dan kesiapan pedagang dalam menghadapi perubahan perilaku konsumen ini akan menentukan daya saing mereka ke depan.
Liputan ini disusun berdasarkan informasi dari berbagai sumber, termasuk keterangan resmi InstaQRIS, data Bank Indonesia, laporan Visa, serta wawancara dengan pedagang dan pengunjung pasar takjil di beberapa daerah.
Redaksi: Kabarin Dunia Biar Tau Indonesia
#InstaQRIS #Ramadan2025 #PasarTakjil #PembayaranDigital #QRIS #EkonomiDigital #BeritaRamadan

